Review Novel: Never Let Me Go - Kazuo Ishiguro




Judul: Never Let Me Go (Jangan Lepaskan Aku)
Penulis: Kazuo Ishiguro
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Alih Bahasa: Gita Yuliani K.
Editor: Rosi L. Simamora
Tebal: 360 Halaman
Terbit: Cetakan kedua, 2017

Blurb:
Dari luar, Hailsham tampak seperti sekolah asrama Inggris yang menyenangkan, jauh dari sentuhan kota besar. Murid-muridnya terpelihara dengan baik, diajari seni, olahraga, dan ilmu pengetahuan. Namun anehnya mereka sama sekali tidak dibiarkan berhubungan dengan dunia di luar asrama mereka.
Kathy, yang kini sudah dewasa, mengenang kembali masa-masanya di Hailsham. Ingatannya tentang persahabatannya dengan Ruth dan Tommy, teman masa kanak-kanaknya di asrama tersebut, membuka berbagai rahasia di balik dinding Hailsham. Di sanalah manusia dikloning agar bisa menyediakan organ-organ yang dibutuhkan oleh penduduk dunia luar yang sakit.
Kisah yang sangat menyentuh ini bercerita tentang kehidupan dan kematian serta  mempertanyakan moral dan arogansi manusia dalam dunia yang semakin canggih.


Aku tidak mengenal karya Kazuo Ishiguro sebelum namanya mencuat sebagai Pemenang Nobel Sastra 2017. Awalnya memang cukup tertarik membaca karya penulis. Tapi mengingat pengalaman terakhirku membaca karya seorang Pemenang Nobel Sastra tidak begitu bagus, aku jadi cukup selektif sebelum memutuskan membeli buku ini ketika diterbitkan kembali oleh GPU. Yang kemudian membuatku mantap untuk membelinya adalah blurb di bagian belakang buku yang memikat dan membuatku tidak perlu berpikir panjang untuk memesan buku ini secara online. 
Kazuo Ishiguro (Sumber: news.cgtn.com)

Menurutku genre buku ini adalah dystopia-romance-scifi meskipun tampaknya cukup berbeda dengan buku-buku bergenre sejenis. Isu “Kloning-Manusia” yang diangkat meskipun tidak dijelaskan secara mendetail namun berhasil tergambarkan  dengan baik. Membaca buku ini memberikan semacam pengalaman baru bagiku –buku dengan ide yang kontroversial namun penulis membuat seakan-akan apa yang ia tuliskan sama sekali normal seperti halnya cerita romace lainnya.


Awalnya aku agak khawatir akan menemukan jalinan kalimat yang ruwet dan membuat pembaca memutar otak setengah mati ketika menyadari bahwa ini adalah karya dari seorang pemenang nobel yang berasal dari Jepang. Novel-novel karya penulis Jepang biasanya beralur lambat dengan narasi yang padat dan agak rumit. Mungkin karena penulis sudah lama bermigrasi sehingga gaya penulisannya pun berubah mengikuti lingkungannya, entahlah. Tapi aku sama sekali tidak mengalami kesulitan ketika membaca, rasanya sama saja seperti membaca karya penulis dengan genre yang sejenis. 


Novel ini diceritakan dari sudut pandang Kathy, dengan alur mundur dan sama sekali tidak lambat mengingat bahwa kisah yang diceritakan  mulai dari masa kanak-kanak mereka hingga berusia tiga puluhan. Kathy membawa pembaca menyelami masa kecilnya dengan berbagai potongan cerita dan petunjuk yang nantinya akan bermuara pada satu titik. Kenangan-kenangan Kathy ini tidak diceritakan secara runut sesuai urutan waktu tapi tergantung pada adegan mana yang akan mendukung petunjuk-petunjuk yang disebar penulis sepanjang novel dan akan mendukung klimaks cerita menjelang ending. 



Buku ini terbagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama menceritakan masa kecil para siswa di Hailsham, kemudian bagian kedua adalah masa-masa setelah mereka berusia enam belas tahun dan berpindah ke cottage dan yang terakhir adalah masa ketika mereka dewasa (ada yang masih menjadi perawat dan ada yang telah menjadi donor). Ketika Kathy menceritakan kisah ini, ia masih bekerja sebagai perawat dan belum memperoleh panggilan untuk menjadi donor sehingga ia menjadi saksi bagaimana teman-temannya menghadapi kehidupan mereka setelah menjalani donor pertama hingga terakhir.
Hailsham (Sumber: http://www.movie-locations.com)
Tokoh sentral dari novel ini adalah Kathy, Tommy dan Ruth. Tiga orang yang bersahabat sejak kanak-kanak dan secara umum terlihat sebagai sahabat yang normal, namun sebetulnya menyembunyikan masalah yang lumayan pelik. Aku cukup menyukai hubungan Tommy dan Kathy kecil yang meskipun agak aneh namun terasa manis. Tetapi aku tidak bisa bersimpati pada persahabatan Ruth dan Kathy yang rasanya sangat rapuh dan tidak tulus. 

Ruth, Kathy dan Tommy (Sumber: www.seattletimes.com)

Ruth tipe orang yang egois, selalu merasa spesial dan semua hal seakan-akan hanya berpusat tentang dirinya. Aku heran bagaimana Kathy dan Tommy bisa bertahan dengan orang seperti ini dalam waktu yang lama. Ia bahkan beberapa kali melakukan dan mengatakan sesuatu yang tidak pantas dilakukan seorang sahabat.



Jadi itu rupanya, itu yang mengganggu Kathy kecil yang malang. Ruth tidak memberi cukup perhatian kepadanya. Ruth sudah mendapat banyak teman baru yang dewasa dan adik bayi kurang sering diajak bermain….”


“Kau kesal karena aku berhasil maju, mendapat teman baru. Beberapa di antara para veteran malah nyaris tidak mengingat namamu, dan siapa bisa menyalahkan mereka? Kau tak pernah bicara dengan siapapun kecuali mereka dari Hailsham. Tapi  kau tidak bisa berharap aku akan memegang tanganmu sepanjang waktu….” – Ruth (Hlm. 158 – 159)
Kathy sendiri adalah tipikal tokoh yang meskipun kadang-kadang terlihat pasif, namun mampu melakukan sesuatu di luar dugaan pada saat-saat tertentu. Ia juga sangat gemar menganalisis sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Ada sesuatu dalam diri Kathy, meskipun terihat tulus namun menyimpan sesuatu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Aku sangat menyukai tokoh-tokoh seperti mereka. Tidak digambarkan hitam-putih, namun penuh kekurangan dan sangat manusiawi.


Sebelumnya telah kutuliskan di atas bahwa penulis mampu membuat ide kontroversial ini seakan-akan terlihat normal. Sangat berbeda dengan Unwind karya Neal Shusterman yang menceritakan tema yang hampir sejenis namun disertai pemberontakan, pertentangan batin dan kebencian. Keduanya memiliki keunikan tersendiri.  Never Let Me Go menceritakan kisah mengerikan ini dengan tenang, nyaris tanpa pergolakan. 

Jika ada yang menanyakan, mengapa tokoh-tokoh dalam novel ini tidak mencoba untuk memberontak dari ketidakadilan atau bahkan melarikan diri dari takdir mereka? Jawabannya adalah, karena mereka tidak mengenal kehidupan lain selain kehidupan yang telah dipersiapkan untuk mereka, yaitu hidup untuk menyediakan organ bagi manusia normal di luar sana. Mereka memang kadang-kadang merindukan kehidupan normal bahkan pernah mengharapkan masa penangguhan. Tapi mereka tidak pernah berpikir lebih dari itu. Hal ini menunjukkan betapa ajaibnya doktrin yang dijalankan sejak masa kanak-kanak mampu menyetir kehidupan sekelompok manusia dengan sangat baik.

(Sumber: thepeoplesmovies.com)

Mereka, para siswa di Hailsham ini tidak tahu bagaimana cara dunia luar bekerja. Ada satu kejadian yang cukup miris ketika mereka masih berada di cottage dan tinggal bersama siswa lama dari sekolah lain yang mereka sebut “veteran”. Lagi-lagi Kathy menganalisis dan berspekulasi tentang apa yang terjadi dengan mereka. 

Tanpa sengaja ada sesuatu yang kuperhatikan dari pasangan-pasangan veteran di cottage ini –sesuatu yang tak tertangkap bahkan oleh Ruth, padahal ia mengamati mereka dengan saksama– yaitu bahwa banyak perilaku mereka ditiru dari televisi.”

“Sekali melihat itu, aku mulai melihat banyak hal lain yang dicontoh para pasangan veteran dari program TV: cara mereka saling memberi isyarat, duduk bersama di sofa, bahkan cara mereka berdebat dan keluar dengan marah dari ruangan” –Kathy (Hlm. 155)
Pesan-pesan moral yang ingin disampaikan penulis diselipkan dengan cukup apik. Tentang arogansi manusia dan segala sikap mereka yang selalu cenderung ingin mengabaikan sesuatu yang membuat mereka merasa bersalah.

Dan untuk waktu lama, orang-orang lebih suka percaya bahwa organ-organ ini muncul dari tempat yang tidak jelas, atau paling-paling tumbuh dalam semacam vakum. Ya… ada banyak perdebatan. Tapi ketika orang-orang mulai peduli tentang… tentang siswa-siswa, saat mereka mulai memikirkan bagaimana kalian dibesarkan, apakah kalian memang perlu diciptakan, nah waktu itu sudah terlambat. Tak ada cara untuk membalik proses itu. Bagaimana bisa kau meminta dunia yang sudah menganggap kanker bisa disembuhkan, untuk kembali ke masa kegelapan?” -Miss Emily (Hlm. 327)
Meskipun diceritakan dengan baik, aku mengalami sedikit gangguan ketika membaca klimaks dari cerita ini. Ini agak subjektif karena aku memang tipe pembaca yang tidak terlalu senang dilimpahi segudang informasi dalam satu adegan sehingga kepalaku terasa penuh dengan usaha untuk mengaitkan segalanya dari awal. Tapi novel ini diselesaikan dengan baik, meskipun beberapa pertanyaan dibiarkan menggantung dan diserahkan kepada pembaca untuk mengakhirinya sendiri. Endingnya tidak menggebu-gebu ataupun emosional tapi terasa benar dan memang seharusnya seperti itulah cerita ini diakhiri.

Pada tahun 2010 novel ini telah diangkat ke layar lebar jadi  bisa menikmati filmnya tepat setelah membaca bukunya. Kalian bisa menjumpai Kathy (Carey Mulligan), Tommy (Andrew Garfield) dan Ruth (Keira Knightley) dengan menengok trailer di bawah ini:



 
0 Responses