Awalnya
aku tidak berharap banyak saat memutuskan untuk membaca buku ini. Yoris
Sebastian bukan nama yang asing di telinga, namun bukan itu alasanku memilih
buku ini. Alasannya adalah, aku mulai menargetkan untuk menyelipkan buku-buku
nonfiksi di antara puluhan buku fiksi yang kubaca setiap tahunnya apalagi buku
ini terbit dalam versi berbahasa inggris. Lumayan untuk latihan sebelum
berkutat dengan jurnal internasional di kemudian hari. Melebihi ekspektasi, ternyata
aku membutuhkan buku-buku semacam ini untuk menyadarkan diri sendiri bahwa
hidup tidak cukup untuk dijalani dengan cara yang biasa saja. Hidup terlalu
singkat dijalani dengan cara yang normal. Walaupun tidak serta merta berubah,
Yoris mulai membuka pandanganku tentang hal tersebut.
Sejak
dahulu kala aku tidak gemar membaca buku-buku motivasi yang berisi tips-tips
yang belum tentu dilakukan oleh penulisnya sendiri. Satu hal yang ditawarkan
dalam buku ini adalah contoh, bukti nyata serta hal-hal apa yang telah
dilakukan dan dicapai penulis. Kupikir itu lebih penting dan bermakna daripada sekadar
memaparkan tips ini dan itu.
Menurut
Yoris Sebastian, kreativitas bukan sejenis kecerdasan yang dapat diturunkan
secara genetik. Ada banyak hal yang dapat mendukung tumbuhnya kreativitas dan
hal ini mungkin berbeda-beda untuk setiap orang. Namun dua hal yang pasti
selalu ada yakni pengalaman dan pengetahuan. Pengetahuan bukan hanya diperoleh
dari bangku sekolah atau buku-buku melainkan dari lingkungan sekitar, bahkan
poster-poster atau iklan dan film pun bisa menjadi sumber pengetahuan dan pada
akhirnya menjadi ide kreatif.
Penulis
menjelaskan beberapa hal yang membentuk kreativitasnya yaitu buku, seminar dan games, musik, Slideshare, Ted, Twitter, Online reading dan sebagainya. Pentingnya
peran otak kiri dan otak kanan juga menjadi penentu dalam membentuk
kreativitas.
“If we want to be creative
and innovative, we have to balance our left dan right brain’s capability. The
abilities of logic, analysis and mathematics, must be supported by a strong imagination. That way, creativity will come out.” (Hal.7)
Yoris Sebastian menerima penghargaan dari majalah Forbes Indonesia sebagai salah satu dari The Progessive Figures bersama Chairul Tandjung, Mike Wiluan, Veronica Colondam dan Najwa Shihab yang dipilih karena dianggap inspiratif di Indonesia (Sumber: http://yorissebastian.com/forbes-the-progessive-figures/)
Selain
itu penulis juga membahas tentang Meetoo-ism
serta kebiasaan Copy-paste yang
menjamur di kalangan para wirausahawan muda. Mereka yang membangun bisnis dan
mengaplikasikan mentah-mentah teknik yang digunakan oleh bisnis serupa yang
telah sukses. Menurut penulis, menjadi follower
tidak akan pernah menjadikan bisnis kita sesukses apalagi lebih sukses dari
pemilik ide orisinal. Lihat saja orang-orang sukses yang berkeliaran di luar
sana, mereka adalah pionir dan pemilik ide kreatif pertama yang mengambil
risiko untuk tampil berbeda dengan memilih sudut pandang mereka sendiri.
Kreativitas
dalam dunia bisnis tidak dibangun dari hal-hal semacam itu. Kita bisa memilih alternatif
dengan membangun sendiri usaha kita dengan menerapkan teknik-teknik dari bidang
usaha lain dan belum pernah diterapkan pada bidang usaha yang kita geluti. Hal
itupun sudah termasuk tindakan kreatif. Google dapat sesukses sekarang sebab ia
tak perlu serta merta menjadi pengikut Yahoo.
“Why Google became very successful?
Because they don’t copy Yahoo. They are significantly different than Yahoo.
Remember that Yahoo homepage is very crowded with lots of advertisement? Google
came with clean home page, very very different than Yahoo.” (Hal.
75)
Berbagai
contoh dipaparkan penulis sebagai hasil dari kreativitas yang telah dijalankannya.
Saat Yoris mencoba meruntuhkan stigma I
Hate Monday dengan membuat program musik I Like Monday di HRC dan berhasil menjadikan acara tersebut sukses
dan diminati seperti acara lainnya di hari jumat dan sabtu. Bagaimana HRC
menawarkan konsep Ladies on Top hingga
meraih rekor MURI. Serta bagaimana
penulis menjadi penggagas private
presentationdi Blitzmegaplex. Ada
juga contoh keberhasilan lainnya yang diraih oleh Amazon, FedEx atau Joger yang
tumbuh dan sukses dengan memanfaatkan ide-ide kreatif.
Layout yang digunakan dalambuku ini cukup minimalis dan praktis, cukup
mendukung pembahasan dalam tiap bab. Beberapa kalimat motivasi sering diulangi
penulis dalam bab berbeda namun bahasa yang sama sebaiknya dikurangi, namun
tidak mengganggu esensi serta kenyamanan dalam membaca buku ini. Kosakata yang
digunakan penulis dalam versi ini juga mudah dipahami sehingga tidak perlu
khawatir jika kalian masih memiliki kosakata yang terbatas. Sepertinya aku
akan memasukkan buku-buku sejenis ini ke dalam wishlist bacaanku setiap tahun. Selanjutnya aku berencana untuk
membaca Disruption karya Rhenald Kasali yang juga diterbitkan oleh Gramedia
Pustaka Utama.